Beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang Autorised Service Shop. Beliau bercerita kalo usahanya bagus, dalam artian banyak pemasukan, tetapi mengapa tetap kesulitan keuangan? Mungkin sebagian dari kita akan langsung berpendapat ya pastilah pengeluaranmu juga banyak. Mari kita cermati beberapa hal berikut ini:
Populasi
Teknisi
Sudahkah teknisi yang ada pada
bengkel mencukupi? Untuk menghitung jumlah ideal teknisi pada suatu bengkel
baiknya didasarkan atas jumlah keluhan yang ditangani dalam sebulan. Misalkan
jumlah keluhan pelanggan tiap bulannya kurang lebih 200 keluhan. Kemampuan
menangani keluhan tiap teknisi adalah 4 keluhan perhari. Dengan asumsi jumlah
hari kerja 25 hari per bulan maka jumlah idealnya adalah jumlah keluhan dibagi
jumlah penanganan keluhan perbulan maka diperoleh jumlah teknisi sebnayak 2
orang.
Ada beberapa bengkel ternyata
memiliki kendala jarak. Sebagian besar layanan dilakukan di tempat konsumen
yang memakan waktu perjalanan. Perlu disiapkan pula kemampuan teknisi untuk
menghadapai kondisi ini. Bukan menambah populasi teknisi. Karena dengan
menambah jumlah teknisi maka akan terjadi overpopulasi.
Produktifitas
Produktifitas adalah suatu
kemampuan teknisi untuk menyelesaikan keluhan secara cepat dan tepat sasaran.
Beberapa bengkel mengaitkan juga faktor service income. Sebenarnya ini dua hal
yang berbeda. Untuk produktifitas harusnya dilihat dari kemampuan teknisi dalam
menyelesaikan keluhan, tidak terkait dengan income service. Hal ini dikarenakan
belum tentu teknisi mendapat bagian yang bersinggungan langsung dengan income,
misalkan saja teknisi bagian refurbishment yang berhubungan dengan barang yang
kembali karena ada keluhan minor yang harus diperbaiki dan barang dapat dijual
lagi.
Beberapa bengkel juga menerapkan
sistem point dalam hal produktifitas.
Beberapa jenis pekerjaan yang dinilai sulit, mendapat kredit point lebih banyak
dari pekerjaaan sederhana. Hal ini dimaksudkan agar teknisi tidak memilih
mengerjakan pekerjaan yang mudah saja. Pemberian point akan sedikit kacau jika
ternyata menghadapi keluhan yang dianggap berpoint rendah ternyata sulit
dikerjakan atau sebaliknya ada keluhan yang biasanya sangat susah tetapi
ternyata begitu mudah dikerjakan.
Service Income
Adalah hal-hal yang berkaitan
dengan aliran dana. Service income terdiri atas penjualan jasa perbaikan,
penjualan spare part atau keduanya. Beberapa bengkel menerapkan tarif minimal
pada tiap penanganan keluhan. Pemberlakuan kebijakan ini berakibat terjadinya
beberapa bentuk penyimpangan yang merugikan konsumen. Misalnya jasa
membersihkan AC ukuran 1 PK adalah 75 ribu rupiah. Bengkel menerapkan kebijakan
bahwa income minimal adalah 100 ribu rupiah. Untuk mengejar kebijakan tersebut
maka teknisi mungkin akan meminta konsumen melakukan tambahan pekerjaan,
menambah Freon misalnya.
Dalam usaha untuk memperbesar
service income tidak dibenarkan menambahkan hal-hal diluar jenis pekerjaan.
Tidak diperkenankan mengganti part yang masih berfungsi baik. Teknisi hanya
mengganti part yang rusak, kecuali part tersebut dalam satu paket.
Demikian sedikit tutorial ini, semoga bermanfaat
Tidak ada komentar :
Posting Komentar